Wood Pellet Energi Terbarukan

Wood Pellet, Sumber Energi Terbarukan Pengganti Batu Bara

Kehadiran wood pellet atau pelet kayu sebagai sumber energi terbarukan dianggap sebagai kabar baik di tengah ketidakstabilan harga batu bara. Sesuai namanya, pelet kayu menggunakan bahan baku ramah lingkungan atau bioenergy. Bentuk bahan bakar alternatif ini sekilas menyerupai briket kayu, hanya saja ukuran dan perekatnya berbeda.

Pemakaian pelet kayu mendukung kampanye pemakaian sumber energi terbarukan sebagai antisipasi menipisnya sumber energi tak terbarukan. Selain lebih bersahabat dengan lingkungan, sumber energi terbarukan pun tak menghabiskan biaya operasional yang cukup besar.

Lantas, apa saja keunggulan yang ditawarkan pelet kayu sebagai sumber daya alternatif?

Apabila Anda Tertarik Ingin Memesan Wood Pellet silahkan klik website ini https://tradeofindonesia.com/wood-pellet

Wood pellet sebagai pengganti batu bara

Wood Pellet
Wood Pellet Indonesia

 

Sebagian besar wood pellet yang kini dipasarkan diproduksi dari kayu keras seperti kayu kaliandra. Ada pula limbah kayu yang diolah jadi serbuk kayu berukuran 1-3 cm dengan diameter 6-10 mm. Bentuknya yang menyerupai silinder disertai pula dengan tekstur padat. Kepadatan rata-rata yang dimiliki pelet kayu sekitar 650 kg/m3 atau 1,5m3/ton.

Dalam aplikasinya sebagai sumber energi terbarukan, pelet kayu memiliki sejumlah alasan yang membuatnya layak dijadikan pengganti batu bara, antara lain:

  • Mempunyai potensi yang setara dengan batu bara sebagai pasokan listrik. Pelet kayu diharapkan bisa menggantikan batu bara secara bertahap untuk memangkas pemakaian sumber energi tak terbarukan;
  • Kandungan kalori dalam pelet kayu lebih rendah dibandingkan batu bara, yakni 4.200 hingga 4.800 kkal/kg saja;
  • Sebagai sumber energi murah, wood pellet ternyata mampu menghasilkan tenaga listrik yang sama besar dari batu bara maupun gas alam lainnya;
  • Produksi pelet kayu untuk PLTU secara tak langsung membuka lapangan kerja lebih banyak. Sebagai perbandingkan, PLTU batu bara mempekerjakan kurang lebih 2.540 orang, sementara PLTU pelet kayu membutuhkan kurang lebih 3.480 orang;
  • Permintaan pelet kayu dalam jangka waktu panjang dapat menunjang pelestarian proses manajemen hutan. Selain itu, lahan-lahan kritis yang semula menjadi tempat penambangan batu bara, timah, emas, nikel, dan lain sebagainya bisa dikembangkan menjadi hutan tanaman khusus industri wood pellet. Misalnya saja kaliandra merah, mahang (Macaranga gigantean), dan karamunting (Melastoma malabatricum);
  • Pelet kayu dapat menjadi komiditas baru yang menjanjikan di Indonesia, karena adanya ketersediaan lahan dan iklim yang menunjang;
  • Indonesia memiliki potensi menghasilkan listrik biomassa hingga kurang lebih 49,8 GW atau 146,7 juta ton per tahun. Beberapa sumbernya mencakup dari residu padi (150 GJ per tahun), residu karet (120 GJ per tahun), residu gula (78 GJ per tahun), residu kelapa sawit (67 GJ per tahun) dan sampah organik lainnya (20 GJ per tahun).

Berbagai keunggulan wood pellet sebagai sumber energi

Sejumlah negara di Amerika dan Eropa telah lama mengandalkan wood pellet sebagai sumber tenaga pembangkit listrik. Pelet kayu akan dibakar menggunakan sistem gasifikasi yang nantinya menghasilkan panas pembakar boiler. Uap panas dari boiler tersebut yang menggerakkan turbin penghasil energi listrik.

Kemudian, ada keunggulan-keunggulan lain yang diberikan pelet kayu sebagai sumber energi, di antaranya:

  • Dianggap sebagai sumber panas efisien berkat tingkat kelembapan dan abu sangat rendah;
  • Meski energi yang dihasilkan pelet kayu cukup tinggi, tingkat emisinya terbilang rendah, yakni tak sampai 0,1 kilogram CO2 per kWh;
  • Pelet kayu termasuk bahan bakar alternatif yang bisa dipakai siapa saja, dari skala kecil seperti rumah tangga hingga skala besar seperti industri;
  • Wood pellet dapat menghemat biaya pengeluaran, sehingga dana bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain.

Potensi wood pellet untuk menyelamatkan lingkungan

Pada dasarnya, tak ada satu pun sumber energi yang mempunyai kemampuan sebagai solusi tunggal untuk mengatasi konsumsi bahan bakar fosil. Di sisi lain, Anda masih bisa mengusahakan langkah-langkah alternatif seperti mengombinasikan sumber energi tak terbarukan dengan sumber energi terbarukan, termasuk untuk pelet kayu.

Seperti yang dibahas sebelumnya, pelet kayu menghasilkan emisi lebih rendah ketimbang batu bara dan bahan bakar minyak. Bahkan perbandingannya bisa delapan kali lebih rendah dari gas. Selain itu, wood pellet sebagai sumber energi terbarukan bersifat carbon neutral karena dianggap tak akan menyumbang emisi CO2 ke atmosfer. Hal ini berkaitan dengan pohon yang dalam pertumbuhannya telah menyerap CO2 lebih besar dibandingkan yang dilepasan, bahkan dapat jadi karbon negatif.

International Energy Association Bioenergy Task 40 mengungkapkan pada 2007 silam, negara-negara di Eropa sempat memproduksi kurang lebih 4,5 juta pelet kayu dengan jumlah konsumsi sekitar 5,5 juta ton. Angka tersebut membuktikan bahwa pelet kayu jadi sumber energi terbanyak yang dimanfaatkan dalam sumber panas dan kelistrikan.

Di kawasan Asia, pemakaian pelet kayu pun perlahan meningkat. Setiap tahunnya, Korea Selatan membutuhkan kurang lebih 60 ton wood pellet dan akan terus meningkat setelah pemerintah di sana mencanangkan substitusi batu bara dengan bahan bakar alternatif tersebut.

Kebijakan dari pemerintah Korea Selatan dalam pencarian biomassa di luar negeri ternyata direspons baik para pebisnis. Mereka rela menggelontorkan investasi untuk industri pelet kayu yang sedang berkembang di Indonesia. Kapasitas produksi terbanyak yang diterima oleh Negeri Ginseng datang dari Indonesia dengan jumlah 40 ribu ton per tahun.

Sayangnya, potensi pelet kayu di pasar domestik belum seantusias Korea Selatan. Beberapa faktor yang mempengaruhinya mencakup kurangnya kesadaran terhadap pemakaian bahan bakar rendah emisi dan masih tingginya konsumsi bahan bakar fosil. Belum tersedianya teknologi yang mampu mengembangkan wood pellet di sektor rumah tangga adalah faktor lain yang membuatnya belum dilirik banyak orang di Indonesia.

Peluang Indonesia sebagai produsen wood pallet

Sebagai salah satu negara tropis, Indonesia menyimpan potensi-potensi menjanjikan yang tidak dimiliki negara lain. Termasuk di antaranya iklim dan lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan pohon yang hijau sepanjang tahun sebagai keunggulan komparatif. Pasalnya, tanaman-tanaman seperti jenis akasia (Acacia mangium) dan ekaliptus (Eucalyptus spp.) yang tumbuh di Hutan Tanaman Industri (HTI) dapat mencapai diameter 30 cm dalam kurun waktu lima tahun. Sementara di negara sub-tropis, pertumbuhan tersebut memerlukan waktu sekitar 40 hingga 60 tahun.

Pengembangan wood pellet yang tepat dan terencana matang dipercaya akan mempercepat produksi bahan baku biofuel. Jenis bahan baku ini sebenarnya bisa diproduksi dari tanaman-tanaman seperti singkong, nyamplung, hingga tebu, hanya saja ketersediaan dan skalanya tak sestabil pelet kayu. Maka wajar saja produksi pohon-pohon untuk sumber energi terbarukan tersebut semakin digencarkan di kawasan HTI.

Dari pemaparan di atas, Anda dapat mempelajari keunggulan pelet kayu hingga potensi Indonesia sebagai produsen bahan bakar alternatif tersebut. Mendapatkan pelet kayu sendiri sekarang sudah dimudahkan, karena sejumlah penjual memasarkannya baik secara online maupun offline. Anda hanya perlu memastikan jumlah yang dibutuhkan dan mempelajari penggunaan wood pellet. Dengan demikian, Anda secara perlahan akan terlepas dari ketergantungan sumber energi tak terbarukan.

Apabila Anda Tertarik Ingin Memesan Wood Pellet silahkan klik website ini https://tradeofindonesia.com/wood-pellet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Language