Energi Terbarukan

 

Menjadi EBT Menjanjikan, Ini 5 Cara Mengenali Wood Pellet Berkualitas

wood pellet indonesia
wood pellet indonesia

Di beberapa negara, wood pellet atau pelet kayu bukanlah barang baru. Salah satu jenis sumber energi terbarukan tersebut diandalkan sebagai bahan alternatif untuk pembakaran di rumah hingga pasokan listrik. Dengan tingkat efisiensi mencapai lebih dari 80%, pelet kayu dianggap dapat menjadi bahan bakar ramah lingkungan yang aman untuk keberlangsungan mahluk hidup di Bumi.

Pencanangan EBT untuk mengurangi emisi CO2

Bukan tanpa alasan pelet kayu dipercaya sebagai energi baru yang terbarukan (EBT), bahkan diklaim dapat menggantikan batu bara. Pelet kayu, terutama yang terbikin dari kaliandra, memiliki sifat carbon neutral yang memungkinkannya menghasilkan emisi CO2 delapan kali lebih rendah dari bahan bakar gas. Sementara saat dibandingkan dengan bahan bakar minyak, wood pellet menekan produksi emisi CO2 hingga sepuluh kali lebih rendah.

EBT sendiri merupakan isu global yang sempat dibahas pada Pertemuan Paris UNFCC pada 2015 di New York. Setidaknya ada 178 negara anggota yang mendiskusikan pencegahan pemanasan global, termasuk menghambat kenaikan temperatur sebanyak 1,5oC. Pencanangan EBT diharapkan dapat menekan produksi emisi sampai 1,4 gigaton di negara-negara berkembang pada 2020. Program ini pun memerlukan dana sekitar USD25 miliar per tahun.

Beberapa negara telah meminta kota-kota besar untuk mendukung pencapaian tujuan Pertemuan Paris, antara lain Lagos, New Delhi, Nanjing, hingga Meksiko. Di Indonesia, EBT dengan pemakaian wood pellet maupun sumber alternatif lain seperti biodiesel, listrik energi biothermal, dan panel surya pun mulai dikembangkan. Pengaturan tersebut telah dicantumkan dalam Kebijakan Energi Nasional.

Secara keseluruhan, potensi EBT di Indonesia mampu menghasilkan sekitar 144 gigawatt meski target yang berhasil dicapai baru 2% atau kurang lebih 8,89 gigawatt. Selain pelet kayu, ada EBT angin seperti yang dioperasikan PLTB di Tolo Janeponto, Sulawesi Selatan. Pemasangan biogas komunal pun sudah didirikan di Pasuruan, Jawa Timur. Sementara di Mempawah, Kalimantan Barat, ada PLTB biomassa yang mampu memproduksi 10 megawatt.

Kaliandra merah, bahan baku utama untuk wood pellet

Mengikuti namanya, wood pellet memakai bahan baku alami dalam produksinya. Akan tetapi, jenis tanaman yang dipilih bukanlah yang sembarangan untuk menjaga kualitas pelet. Dalam hal ini, ada kaliandra merah atau cabello de angel dari Guatemala yang dipilih sebagai bahan baku utama. Tanaman ini digadang-gadang dapat menjadi materual EBT biomassa untuk pembangkit listrik dengan produksi mencapai 10 megawatt.

Kaliandra merah termasuk tanaman semak yang mudah tumbuh sepanjang musim penghujan maupun kemarau. Jamur microriza dan rhizobium yang terdapat pada akar kaliandra merah dapat menahan pertumbuhan gulma yang membahayakan. Bukan hanya sebagai bahan baku wood pellet, bagian daun dari kaliandra merah pun bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bunganya sebagai penghasil nektar berkualitas bagi para lebah madu.

Kaliandra merah bisa tumbuh sampai 12 meter dengan diameter mencapai 20 cm. Batang basah tanaman ini bisa menghasilkan energi panas sebesar 4.600 kkl per kilogram. Sementara batang yang sudah kering dapat memproduksi panas yang setara dengan batu bara. Prospek inilah yang menjadikan kaliandra merah sebagai bahan baku yang menjanjikan sekaligus ramah lingkungan.

Karakteristik kaliandra merah membuatnya mudah dibudidayakan di Indonesia. Pengembangan, studi, hingga pemakaian kaliandra merah untuk wood pellet sebagai pemasok pembangkit tenaga listrik diklaim akan menunjang produksi bahan bakar alternatif. Terutama saat Indonesia hanya memiliki kurang lebih 2% dari total cadangan minyak dunia dalam pemakaian BBM.

Bagaimana cara memilih wood pellet berkualitas?

Walau produksi pelet kayu terbilang mudah dan menawarkan sejumlah manfaat, Anda tetap perlu waspada saat membelinya. Tak sedikit pelet kayu berkualitas rendah yang dipasarkan untuk meraup untung besar. Pelet kayu yang terbikin dari kaliandra merah atau tanaman lain pilihan mempunyai kriteria seperti berikut:

  • Ukuran pelet yang konsisten;
  • Mempunyai permukaan yang cerah dan lembut;
  • Tidak terlalu lembap, berdebu, atau bergelombang;
  • Tak menggunakan bahan tambahan berbahaya;
  • Menghasilkan lelehan abu dalam temperatur tinggi;
  • Ketika dibakar, panas yang dihasilkan maksimal.

Untuk membantu proses pemilihan, berikut lima langkah yang akan membantu Anda menemukan wood pellet berkualitas:

  1. Perhatikan tampilan luar pelet

Jika cukup jeli, Anda sebenarnya akan langsung menemukan pelet kayu yang bagus berdasarkan tampilan luar saja. Periksa panjang masing-masing pelet, karena faktor ini mempengaruhi performa pelet saat dibakar. Hal lainnya yang harus diperiksa adalah debu atau serbuk halus yang muncul saat mengeluarkan pelet kayu dari tas. Jika jumlah yang kelar di atas 1% dari total pelet, maka produk melewati proses pressing yang kurang kuat.

  1. Menyentuh atau meraba pelet

Belum terlalu yakin dengan kualitas pelet kayu walau sudah mencermatinya berulang kali? Lanjutkan pemeriksaan dengan menyentuh atau merabanya. Kalau Anda merasakan permukaan rata saat memegangnya, dengan tambahan tampilan bersinar dan bebas retakan, bisa dipastikan wood pellet tersebut ditangani dengan baik. Itu berarti produsen pelet mengetahui rasio pressing dengan tingkat kelembapan pada bahan yang dipakai.

  1. Mengenali aroma pelet

Sebagian besar pelet kayu dibuat dalam temperatut tinggi, sehingga lignin dalam material biomass bereaksi sebelum dicampurkan dengan material dari biomass lainnya. Proses tersebut menciptakan bau atau aroma kayu yang khas, biasanya seperti kayu yang baru dibakar. Jangan membeli pelet kayu yang menguarkan bau terlalu menyengat atau sarat bahan-bahan lain yang semestinya tidak dipakai dalam pembuatan.

  1. Campurkan dengan air

Cara lainnya yang bisa Anda lakukan untuk mengenali wood pellet bermutu adalah mencampurnya dengan air. Kumpulkan beberapa pelet, lalu masukkan ke dalam gelas berisi air bersih dan diamkan selama beberapa menit. Pelet kayu yang terbuat dari bahan pilihan dan diproduksi sesuai prosedur akan cepat larut. Sementara pelet kayu yang kualitasnya rendah atau dicampur bahan tambahan yang terlalu banyak membutuhkan waktu lebih lama atau malah mengeras.

  1. Membakar pelet kayu

Bisa dikatakan langkah ini adalah yang paling ampuh buat mengenali mutu pelet kayu yang hendak Anda gunakan. Ketika dibakar, pelet yang bagus akan mengalami perubahan warna menjadi cokelat atau menyerupai api dengan warna lebih cerah. Sementara wood pellet yang warnanya menggelap menandakan kualitas yang kurang baik. Setelah pembakaran, cek abu yang tersisa. Semakin sedikit abu yang dihasilkan, semakin bagus kualitas pelet kayu yang Anda pilih.

Hal-hal lain yang perlu Anda perhatikan adalah harga dan pengemasan yang dari penjual. Pelet kayu yang dibungkus dengan baik tak akan menciptakan goresan atau perubahan bentuk. Menyoal harga, pastikan Anda memilih pelet yang dibanderol dengan harga bersaing.

Mendapatkan pelet kayu pun semakin dimudahkan karena produk ini kini tersedia secara online. Anda hanya perlu melakukan pemesanan wood pellet sesuai kebutuhan dan lakukan pembayaran sebelum menunggu penjual mengirimkan pelet ke alamat yang ditujukan.

Apabila Anda Tertarik Ingin Memesan Wood Pellet silahkan klik website ini https://tradeofindonesia.com/wood-pellet

Wood Pellet Energi Terbarukan

Wood Pellet, Sumber Energi Terbarukan Pengganti Batu Bara

Kehadiran wood pellet atau pelet kayu sebagai sumber energi terbarukan dianggap sebagai kabar baik di tengah ketidakstabilan harga batu bara. Sesuai namanya, pelet kayu menggunakan bahan baku ramah lingkungan atau bioenergy. Bentuk bahan bakar alternatif ini sekilas menyerupai briket kayu, hanya saja ukuran dan perekatnya berbeda.

Pemakaian pelet kayu mendukung kampanye pemakaian sumber energi terbarukan sebagai antisipasi menipisnya sumber energi tak terbarukan. Selain lebih bersahabat dengan lingkungan, sumber energi terbarukan pun tak menghabiskan biaya operasional yang cukup besar.

Lantas, apa saja keunggulan yang ditawarkan pelet kayu sebagai sumber daya alternatif?

Apabila Anda Tertarik Ingin Memesan Wood Pellet silahkan klik website ini https://tradeofindonesia.com/wood-pellet

Wood pellet sebagai pengganti batu bara

Wood Pellet
Wood Pellet Indonesia

 

Sebagian besar wood pellet yang kini dipasarkan diproduksi dari kayu keras seperti kayu kaliandra. Ada pula limbah kayu yang diolah jadi serbuk kayu berukuran 1-3 cm dengan diameter 6-10 mm. Bentuknya yang menyerupai silinder disertai pula dengan tekstur padat. Kepadatan rata-rata yang dimiliki pelet kayu sekitar 650 kg/m3 atau 1,5m3/ton.

Dalam aplikasinya sebagai sumber energi terbarukan, pelet kayu memiliki sejumlah alasan yang membuatnya layak dijadikan pengganti batu bara, antara lain:

  • Mempunyai potensi yang setara dengan batu bara sebagai pasokan listrik. Pelet kayu diharapkan bisa menggantikan batu bara secara bertahap untuk memangkas pemakaian sumber energi tak terbarukan;
  • Kandungan kalori dalam pelet kayu lebih rendah dibandingkan batu bara, yakni 4.200 hingga 4.800 kkal/kg saja;
  • Sebagai sumber energi murah, wood pellet ternyata mampu menghasilkan tenaga listrik yang sama besar dari batu bara maupun gas alam lainnya;
  • Produksi pelet kayu untuk PLTU secara tak langsung membuka lapangan kerja lebih banyak. Sebagai perbandingkan, PLTU batu bara mempekerjakan kurang lebih 2.540 orang, sementara PLTU pelet kayu membutuhkan kurang lebih 3.480 orang;
  • Permintaan pelet kayu dalam jangka waktu panjang dapat menunjang pelestarian proses manajemen hutan. Selain itu, lahan-lahan kritis yang semula menjadi tempat penambangan batu bara, timah, emas, nikel, dan lain sebagainya bisa dikembangkan menjadi hutan tanaman khusus industri wood pellet. Misalnya saja kaliandra merah, mahang (Macaranga gigantean), dan karamunting (Melastoma malabatricum);
  • Pelet kayu dapat menjadi komiditas baru yang menjanjikan di Indonesia, karena adanya ketersediaan lahan dan iklim yang menunjang;
  • Indonesia memiliki potensi menghasilkan listrik biomassa hingga kurang lebih 49,8 GW atau 146,7 juta ton per tahun. Beberapa sumbernya mencakup dari residu padi (150 GJ per tahun), residu karet (120 GJ per tahun), residu gula (78 GJ per tahun), residu kelapa sawit (67 GJ per tahun) dan sampah organik lainnya (20 GJ per tahun).

Berbagai keunggulan wood pellet sebagai sumber energi

Sejumlah negara di Amerika dan Eropa telah lama mengandalkan wood pellet sebagai sumber tenaga pembangkit listrik. Pelet kayu akan dibakar menggunakan sistem gasifikasi yang nantinya menghasilkan panas pembakar boiler. Uap panas dari boiler tersebut yang menggerakkan turbin penghasil energi listrik.

Kemudian, ada keunggulan-keunggulan lain yang diberikan pelet kayu sebagai sumber energi, di antaranya:

  • Dianggap sebagai sumber panas efisien berkat tingkat kelembapan dan abu sangat rendah;
  • Meski energi yang dihasilkan pelet kayu cukup tinggi, tingkat emisinya terbilang rendah, yakni tak sampai 0,1 kilogram CO2 per kWh;
  • Pelet kayu termasuk bahan bakar alternatif yang bisa dipakai siapa saja, dari skala kecil seperti rumah tangga hingga skala besar seperti industri;
  • Wood pellet dapat menghemat biaya pengeluaran, sehingga dana bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain.

Potensi wood pellet untuk menyelamatkan lingkungan

Pada dasarnya, tak ada satu pun sumber energi yang mempunyai kemampuan sebagai solusi tunggal untuk mengatasi konsumsi bahan bakar fosil. Di sisi lain, Anda masih bisa mengusahakan langkah-langkah alternatif seperti mengombinasikan sumber energi tak terbarukan dengan sumber energi terbarukan, termasuk untuk pelet kayu.

Seperti yang dibahas sebelumnya, pelet kayu menghasilkan emisi lebih rendah ketimbang batu bara dan bahan bakar minyak. Bahkan perbandingannya bisa delapan kali lebih rendah dari gas. Selain itu, wood pellet sebagai sumber energi terbarukan bersifat carbon neutral karena dianggap tak akan menyumbang emisi CO2 ke atmosfer. Hal ini berkaitan dengan pohon yang dalam pertumbuhannya telah menyerap CO2 lebih besar dibandingkan yang dilepasan, bahkan dapat jadi karbon negatif.

International Energy Association Bioenergy Task 40 mengungkapkan pada 2007 silam, negara-negara di Eropa sempat memproduksi kurang lebih 4,5 juta pelet kayu dengan jumlah konsumsi sekitar 5,5 juta ton. Angka tersebut membuktikan bahwa pelet kayu jadi sumber energi terbanyak yang dimanfaatkan dalam sumber panas dan kelistrikan.

Di kawasan Asia, pemakaian pelet kayu pun perlahan meningkat. Setiap tahunnya, Korea Selatan membutuhkan kurang lebih 60 ton wood pellet dan akan terus meningkat setelah pemerintah di sana mencanangkan substitusi batu bara dengan bahan bakar alternatif tersebut.

Kebijakan dari pemerintah Korea Selatan dalam pencarian biomassa di luar negeri ternyata direspons baik para pebisnis. Mereka rela menggelontorkan investasi untuk industri pelet kayu yang sedang berkembang di Indonesia. Kapasitas produksi terbanyak yang diterima oleh Negeri Ginseng datang dari Indonesia dengan jumlah 40 ribu ton per tahun.

Sayangnya, potensi pelet kayu di pasar domestik belum seantusias Korea Selatan. Beberapa faktor yang mempengaruhinya mencakup kurangnya kesadaran terhadap pemakaian bahan bakar rendah emisi dan masih tingginya konsumsi bahan bakar fosil. Belum tersedianya teknologi yang mampu mengembangkan wood pellet di sektor rumah tangga adalah faktor lain yang membuatnya belum dilirik banyak orang di Indonesia.

Peluang Indonesia sebagai produsen wood pallet

Sebagai salah satu negara tropis, Indonesia menyimpan potensi-potensi menjanjikan yang tidak dimiliki negara lain. Termasuk di antaranya iklim dan lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan pohon yang hijau sepanjang tahun sebagai keunggulan komparatif. Pasalnya, tanaman-tanaman seperti jenis akasia (Acacia mangium) dan ekaliptus (Eucalyptus spp.) yang tumbuh di Hutan Tanaman Industri (HTI) dapat mencapai diameter 30 cm dalam kurun waktu lima tahun. Sementara di negara sub-tropis, pertumbuhan tersebut memerlukan waktu sekitar 40 hingga 60 tahun.

Pengembangan wood pellet yang tepat dan terencana matang dipercaya akan mempercepat produksi bahan baku biofuel. Jenis bahan baku ini sebenarnya bisa diproduksi dari tanaman-tanaman seperti singkong, nyamplung, hingga tebu, hanya saja ketersediaan dan skalanya tak sestabil pelet kayu. Maka wajar saja produksi pohon-pohon untuk sumber energi terbarukan tersebut semakin digencarkan di kawasan HTI.

Dari pemaparan di atas, Anda dapat mempelajari keunggulan pelet kayu hingga potensi Indonesia sebagai produsen bahan bakar alternatif tersebut. Mendapatkan pelet kayu sendiri sekarang sudah dimudahkan, karena sejumlah penjual memasarkannya baik secara online maupun offline. Anda hanya perlu memastikan jumlah yang dibutuhkan dan mempelajari penggunaan wood pellet. Dengan demikian, Anda secara perlahan akan terlepas dari ketergantungan sumber energi tak terbarukan.

Apabila Anda Tertarik Ingin Memesan Wood Pellet silahkan klik website ini https://tradeofindonesia.com/wood-pellet

Language